Kisah Pohon Apel


20.42 |



Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar
dan anak lelaki yang senang bermain-main di
bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang
memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan
buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang
daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai
pohon apel itu. Demikian pula, pohon apel sangat
mencintai anak kecil itu.
Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah
tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main
dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari
ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak
sedih. “Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,”
pinta pohon apel itu. “Aku bukan anak kecil yang
bermain-main dengan pohon lagi.” jawab anak
lelaki itu. “Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi
aku tak punya uang untuk membelinya.” Pohon
apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya
uang… tetapi kau boleh mengambil semua buah
apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan
uang untuk membeli mainan kegemaranmu.”
Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik
semua buah apel yang ada di pohon dan pergi
dengan penuh suka cita.
Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang
lagi. Pohon apel itu kembali sedih. Suatu hari anak
lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang
melihatnya datang. “Ayo bermain-main
denganku lagi.” kata pohon apel. “Aku tak punya
waktu,” jawab anak lelaki itu. “Aku harus bekerja
untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah
untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?”
“Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau
boleh menebang semua dahan rantingku untuk
membangun rumahmu.” kata pohon apel.
Kemudian, anak lelaki itu menebang semua dahan
danranting pohon apel itu dan pergi dengan
gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia
melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu
tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa
kesepian dan sedih.
Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang
lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita
menyambutnya. “Ayo bermain-main lagi
deganku.” Kata pohon apel. “Aku sedih,” kata
anak lelaki itu. “Aku sudah tua dan ingin hidup
tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar.
Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk
pesiar?” “Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau
boleh memotong batang tubuhku dan
menggunakannya untuk membuat kapal yang
kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-
senanglah.” Kemudian, anak lelaki itu memotong
batang pohon apel itu dan membuat kapal yang
diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak
pernah lagi datang menemui pohon apel itu.
Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah
bertahun-tahun kemudian. “Maaf, anakku,” kata
pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah apel
lagi untukmu. “Tak apa. Aku pun sudah tak
memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu.”
Jawab anak lelaki itu. “Aku juga tak memiliki
batang dan dahan yang bisa kau panjat.” kata
pohon apel. “Sekarang, aku sudah terlalu tua
untuk itu.” jawab anak lelaki itu.
“Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang
bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah
akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini.” Kata
pohon apel itu sambil menitikkan air mata.
“Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang.” kata
anak lelaki. “Aku hanya membutuhkan tempat
untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian
lama meninggalkanmu.”
“Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar
pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring
dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di
pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan
tenang.”
Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar
pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan
tersenyum sambil meneteskan air matanya.
Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel
itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita
senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita.
Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan
mereka, dan hanya datang ketika kita
memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak
peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di
sana untuk memberikan apa yang bisa mereka
berikan untuk membuat kita bahagia. Anda
mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah
bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi
begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.
Cintailah orang tua kita.
Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa
kita mencintainya, dan berterima kasih atas
seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya
pada kita.


Baca juga Artikel ini :


0 komentar:

Posting Komentar