Anak Katak dan Hujan


20.40 |



Anak Katak dan Hujan
Ada kegundahan tersendiri yang dirasakan seekor
anak katak ketika langit tiba-tiba gelap. "Bu, apa
kita akan binasa. Kenapa langit tiba-tiba gelap?"
ucap anak katak sambil merangkul erat lengan
induknya. Sang ibu menyambut rangkulan itu
dengan belaian lembut.
"Anakku," ucap sang induk kemudian. "Itu bukan
pertanda kebinasaan kita. Justru, itu tanda baik."
jelas induk katak sambil terus membelai. Dan
anak katak itu pun mulai tenang.
Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama.
Tiba-tiba angin bertiup kencang. Daun dan tangkai
kering yang berserakan mulai berterbangan.
Pepohonan meliuk-liuk dipermainkan angin. Lagi-
lagi, suatu pemandangan menakutkan buat si
katak kecil. "Ibu, itu apa lagi? Apa itu yang kita
tunggu-tunggu? " tanya si anak katak sambil
bersembunyi di balik tubuh induknya.
"Anakku. Itu cuma angin," ucap sang induk tak
terpengaruh keadaan. "Itu juga pertanda kalau
yang kita tunggu pasti datang!" tambahnya begitu
menenangkan. Dan anak katak itu pun mulai
tenang. Ia mulai menikmati tiupan angin kencang
yang tampak menakutkan.
"Blarrr!!!" suara petir menyambar-nyambar.
Kilatan cahaya putih pun kian menjadikan suasana
begitu menakutkan. Kali ini, si anak katak tak lagi
bisa bilang apa-apa. Ia bukan saja merangkul dan
sembunyi di balik tubuh induknya. Tapi juga
gemetar. "Buuu, aku sangat takut. Takut sekali!"
ucapnya sambil terus memejamkan mata.
"Sabar, anakku!" ucapnya sambil terus membelai.
"Itu cuma petir. Itu tanda ketiga kalau yang kita
tunggu tak lama lagi datang! Keluarlah. Pandangi
tanda-tanda yang tampak menakutkan itu.
Bersyukurlah, karena hujan tak lama lagi datang,"
ungkap sang induk katak begitu tenang.
Anak katak itu mulai keluar dari balik tubuh
induknya. Ia mencoba mendongak, memandangi
langit yang hitam, angin yang meliuk-liukkan
dahan, dan sambaran petir yang begitu
menyilaukan. Tiba-tiba, ia berteriak kencang, "Ibu,
hujan datang. Hujan datang! Horeeee!"**
Anugerah hidup kadang tampil melalui rute yang
tidak diinginkan. Ia tidak datang diiringi dengan
tiupan seruling merdu. Tidak diantar oleh dayang-
dayang nan rupawan. Tidak disegarkan dengan
wewangian harum.
Saat itulah, tidak sedikit manusia yang akhirnya
dipermainkan keadaan. Persis seperti anak katak
yang takut cuma karena langit hitam, angin yang
bertiup kencang, dan kilatan petir yang
menyilaukan. Padahal, itulah sebenarnya tanda-
tanda hujan.
Benar apa yang diucapkan induk katak: jangan
takut melangkah, jangan sembunyi dari
kenyataan, sabar dan hadapi. Karena hujan yang
ditunggu, jika TUHAN berkehendak pasti akan
datang. Bersama kesukaran ada kemudahan.
Sekali lagi, bersama kesukaran ada kemudahan.
------------ --------- --------- --------- ---------
--------- -
Kesadaran adalah matahari, Kesabaran adalah
bumi
Keberanian menjadi cakrawala dan Perjuangan
Adalah pelaksanaan kata kata


Baca juga Artikel ini :


0 komentar:

Posting Komentar